Minggu, 29 Januari 2012

Dialog Seniman


dialog ini saya kutip dari naskah Mimpi Kosong karya Abdoel Azis

SENIMAN ; Seharusnya kalian tahu, bagaimana aku memperjuangkan seni. Meskipun aku besar di luar negeri, namun aku rindu kampung halaman. Tetapi kalian. Kalian yang mengatasnamakan pencinta seni, pun para birokrat yang mengurusi misi kesenian telah berbohong kepadaku. Kalian hanya ingin mengeruk keuntungan tanpa mau memikirkan kesejahteraan kaum seniman. Aku betul-betul menjadi korban.

Aku masih ingat betul ketika kalian datang merayuku agar segera pulang ke negeri ini. Kalian berjanji untuk memberikan kebebasan, serta fasilitas berekspresi kepadaku. Maka aku tak ragu menarik Surti penari jalanan, Sudarji pemain jaran kepang, dan mengumpulkan para seniman yang tersia-siakan kemampuan dan bakatnya. Tapi apa? Mana? Setelah kalian sukses mencapai tujuan kalian; Surti tetap Surti yang menari dari satu tempat ke tempat lain, yang diiringi penabuh tua dan papa. Aku tak kuasa mendengar tangis anak Surti yang kehausan, lantaran air susu ibunya habis bersama keringat yang terus mengalir saat Surti menari. Aku tak tega melihat darah mengalir dari kaki Sudarji, karena menginjak pecahan beling saat bermain jaran kepang. Aku pun tak rela menyaksikan para seniman berbakat beralih profesi menjadi tukang becak, buruh tani, dan kuli-kuli kasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang hanya sebatas isi perut. Aku betul-betul marah

Aku mencoba menggedor pintu-pintu kalian. Tapi mata kalian  telah terperdaya oleh tayangan-tayangan iklan, telinga kalian tertutup ponsel, dan mulut kalian asyik bernyanyi karoke sambil mengunyah-ngunyah makanan lezat berkolestrol... Aku sungguh malu pada Surti, malu pada Sudarji. Harapan mereka lenyap bersama harapanku. Dan dalam rasa malu yang bercampur marah, aku menjadi sosok Van Goh. Aku berdiri di atas kanvas sambil kutempelkan pucuk pistol di pelipisku. Semua menjadi gelap. Sunyi. Kosong.

(Posting ini telah didokumentasi dalam Kumpulan Fiksi Mini)

2 komentar:

Masbro mengatakan...

Ah, ini aktual Pak. Sesuatu yang nyata nyata ada di sekitar kita. Bukan fiksi, meskipun Bapak membuatnya terlihat seperti cerita pendek.

Di dunia pencinta alam pun begitu. Ah, entahlah Pak Azis, saya bingung hendak berkomentar apa.

Sangat menarik dan inspiratif

Den Bandung mengatakan...

Terima kasih Masbro. Kenyataan dan fiksi dalam dunia sastra memang sangat tipis jaraknya. Bagaimana mungkin seorang penulis bisa menulis di luar pengalaman melihat, merenung dan merasakan lingkungannya. Mimpi itu namanya.

Carilah Yang Kau Butuhkan