Kamis, 16 Februari 2012

Val Pedagang Kasih Sayang


 Abdoel Azis sedang membaca puisi karya Balya Nur dan Hilda Rumambi pada acara "Meluruskan Cinta Lewat Puisi" di Cafe Arongan Jember, 13 Februari 2012

VAL PEDAGANG KASIH SAYANG
karya, Balya Nur
 
Val,kasih sayang telah aku berikan cuma cuma
Telah dan akan aku tiitpkan pada siapa saja
Tanpa syarat dan ketentuan
... Tanpa atribut warna
Tanpa lambang
Tanpa lencana
Berlaku sepanjang suka
Val,setahun kau kumpulkan cinta
Kau tentukan musim kasih sayang
Kau buat pelangganmu tergila menunggu
Kau bius mereka dengan
Atribut warna
Lambang
Lencana
Menganga menunggu gula gula
Begitukah cara berjualan kasih sayang ?

Val,bagiku itu merepotkan
Katamu,menguntungkan.



PADA MULANYA ADALAH KATA   
karya Hilda Rumambi
 
Kata harus ditemukan kembali. Kata tidak selalu menjadi daratan yang statis, diam tak bergerak. Mungkin ia lautan yang senantiasa bergejolak, pulang dan pergi ia tiada henti.

Kata harus menemukan dirinya yang tak lain menemukan manusia yang telah meninggalkan dan ia tinggalkan.
...
Maka berkatalah, bukan hanya untuk mengerti tapi menjadi. Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta.

Susunlah ia menjadi puisi sehingga ia memanusiakan kita, sebagaimana sejarah waktu ada pada kita, sejarah cinta membentuk manusia.

Biarlah puisi bergerak tiada henti..puisi akan menemukan dan menghidupkan manusia kembali.

Bagi yang terlena, yang mayat dalam kata-katanya, yang tak menggerakan jiwa manusia, yang tidak membongkar adab dengan fitnah dan tipuannya, yang terjebak dalam daratan yang membatu...ia akan menemui selalu puisi yang gagal, dalam hatinya yang beku.

Puisimu-puisiku..gerakanlah kami menjadi manusia yang berjiwa dalam kata-kata mistismu...
Bergeraklah!

2 komentar:

Syair-dan-jiwa mengatakan...

Mantab...sebuah daya tarik kata tak terarah...menancap kemana-mana!

Den Bandung mengatakan...

Syair-dan-jiwa, terima kasih atas komentar dan apresiasinya

Carilah Yang Kau Butuhkan