Tampilkan postingan dengan label Autobiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Autobiografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Februari 2013

Catatan Kecil tentang Abdoel Azis

AKU lahir  di Bandung 5 Desember 1959. Tanpa disadari mengenal teater sejak dilahirkan. Meskipun hidup di lingkungan pesantren, dalam keseharianku selalu berinteraksi dengan dunia kesenian. Di Liogenteng Astana Anyar atau daerah Tegalega Bandung, tempatku menghabiskan masa kecil dan masa remaja. Di Logenteng ada seorang dalang wayang golek kondang Mama Soehaya namanya. Dalang yang selalu memberikan pencerahan bagi dalang-dalang muda karena inovasi-inovasinya.  Di samping Pasar Astana Anyar (lama) berdiri Gedung Sandiwara Sunda "Sinar Muda" yang setiap malam mementaskan lakon-lakon cerita rakyat dan wayang orang berbahasa Sunda. Di Gang Tegalega ada juga kelompok Sandiwara Sunda yang dipimpin Ba'un Gozali, tokoh perfilman Indonesia, angkatan 60 sampai 70an. Di ujung Jalan Rasdan berdiri Bioskop Sahati, yang sering memutar film-film Indonesia dan India, koboy dan kungfu. Di Bunderan Tegalega yang diapit Jalan Oto Iskandar Dinata dan Jalan Astana Anyar, hampir tiap sore sampai malam hari, beberapa tukang obat  melakukan orasi untuk menarik minat pembeli. Di situ juga sering hadir kelompok  kesenian tradisional Longser. Tak terhitung kelompok calung dan gondang yang sering mendapat tanggapan pada acara perkawinan dan khitanan serta perayaan tujuh belasan. Namun semua kesenian dan tempat hiburan yang disebutkan tadi, kini hanya tinggal kenangan, atau mungkin sudah dilupakan.Tempat-tempat hiburan tadi sudah digerus mahluk kapitalis yang disebut dengan ekonomicos.

Aku mulai aktif berteater ketika di SMAN 8 Bandung. Begitu aku mengenal sedikit tentang latihan teater dari Yugo Lelono pelatih Teater SMAN 4 Bandung, dan Lukmanto dari Teater Remy Silado,  Aku sudah berani mendirikan teater, dan  menyutradarai sendiri untuk Teater Jurusan Bahasa.  Karya-karyaku waktu itu berbentuk improvisasi. Selama di Bandung waktuku dihabiskan untuk menonton pementasan-pementasan teater di Rumintang Siang dan YPK di Jalan Braga. Untuk dunia genit berkesenian, dia mengubah nama panggungku sebagai Azis Prasara. Nama itu kusandang sampai aku benar-benar berlatih teater di Jakarta tahun 1980 - 1987.

Beruntung Aku bisa bergabung bersama Lab Teater Ketjil yang dibimbing langsung oleh Arifin C. Noer (Alm), dan Embi C. Noer. Berkat mereka, Aku mendirikan Teater Taman IKIP Jakarta tahun 1982. Turut berbagung Sam Mokhtar Chaniago (Dosen Bhs. Indonesia UNJ), Sitok Srengenge (Penyair) dan Madin Tysawan (DKJ urusan teater), serta beberapa anggota yang kini menjadi guru serta pembina teater di Jakarta.

Tahun 1988 Aku hijrah ke Jawa Timur, mendirikan teater-teater sekolah di Banyuwangi dan Jember. Kini Aku menetap di Jember sebagai guru dan pembina LabTeater 56 SMAN Kalisat, serta mendirikan Studi Teater Jember, dengan nama Abdoel Azis.


Minggu, 02 Oktober 2011

Apa itu Teater?

Teater, Apa itu? Semula aku merasa asing mendengar kata itu. Waktu kecil Aku sering mendengar kata Terter untuk sebutan Gedung Sandiwara Sunda Sinar Muda. Tapi itu bahasa gaul, cuma dimengerti di kalangan preman saja. Yang lain tetap menyebutnya sandiwara. Setelah SMA, aku baru sadar mungkin yang disebut terter oleh preman-preman itu asalnya dari kata teater. Tapi waktu kutanyakan pada mereka, mereka tidak tahu. "Ya, pokoknya terter"' jawab mereka.
Para penonton Sandiwara Sunda Sinar Muda tidak faham asal muasal kata Sandiwara. Tidak tahu kalau kata Sandiwara sudah disebut oleh Sultan Agung, Raja Mataram, dan dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan. Tetapi mereka sudah bisa menerka-nerka Sandi artinya kode sedangkan wara artinya berita alias woro-woro; berita  atau woro-woro yang dikodekan = petunjuk melalui perlambangan = petuah/amanat yang disamarkan melalui sebuah pertunjukan.
Teater, Apa itu? Jangankan kita mau menerangkan bahwa sandiwara merupakan bagian dari teater. Teater berasal dari Yunani, asal katanya "Theatron". Teater  bisa berarti tempat pertunjukan, bisa juga sebagai  gagasan yang dipertontonkan, begitu menurut buku yang aku baca. ketika belajar sastra Prancis. Wah, pasti  akan pusing mereka memahami uraian tersebut. Bagi mereka yang ada adalah Drama. Drama itu adalah istilah lain dari kata Sandiwara. Bahkan dengan enak saja mereka mengartikan bahwa Drama adalah bahasa Indonesia, sedangkan Sandiwara bahasa sundanya. Mungkin mereka akan lebih tercengang jika diberitahu bahwa kata drama pun berasal dari  bahasaYunani, yaitu Dramois, artinya "bergerak atau berkehendak melakukan sesuatu". Aristoteles mendefinisikan drama sebagai tiruan dari kehidupan manusia, begitu dalam bukunya yang berjudul Poetique. 
Tapi biarkan saja, sebagai penonton mungkin tidak perlu disodori berbagai macam teori. Yang penting bagaimana mereka bisa menikmati, merasakan dan merenungkan apa-apa yang dilihatnya di atas panggung. Itulah yang disebut dengan apresiasi.

Istilah teater adalah istilah baru bagi mereka, termasuk bagiku juga. Kalau saja aku tak membaca buku-buku tentang teater, mungkin sampai saat ini aku masih menganggap ketoprak, ludruk, sandiwara sunda, longser sebagai drama tradisional, sedangkan teater sebagai drama modern. Sedangkan wayang golek, wayang kulit dan wayang orang, ya wayang, bukan teater. Apalagi menganggap reog, calung, kuda lumping, dan gondang, mungkin aku cukup dengan menyebutnya sebagai kesenian tradisional, bukan teater.

Carilah Yang Kau Butuhkan