Tampilkan postingan dengan label Prosa Lirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa Lirik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

Menjelang Hari Raya

Adalah kesunahan melimpahkan rasa suka pada hari raya. Bergembira bersama nyanyian pujian pada Tuhan Sang Pencipta. Bukan kerna lepas dari lapar dan dahaga di bulan Ramadhan. Tapi manusia difitrikan kembali ruhnya bagi yang berpuasa dengan benar dan sungguh-sungguh.

Namun adalah kita manusia Indonesia yang senantiasa berlebih-lebihan. Keperluan lebaran mengalahkan akhir-akhir bulan Ramadhan. Moll penuh sesak dibanjiri orang-orang yang gila diskon sementara langgar dan masjid semakin lama semakin kosong. Shalat terawih dan tadarus yang biasa bergema di corong-corong  tinggal  sayup-sayup kedengarannya. Bahkan azan diganti suara rekaman.

Ah, alangkah ruginya! Alangkah ruginya! kata Pak Kiai menangis sepi di malam hari diamini para malaikat yang turun menebarkan janji tentang lailatul qadar. Aku teringat puisi Sitor Situmorang, gambaran keindahan di tengah-tengah kesunyian:

MALAM LEBARAN

Bulan di atas kuburan

Minggu, 26 Juni 2011

Cerpen Singkat dalam Prosa Lirik : Tentang Keadilan


Semua ada bagiannya!
par Abdoel Azis

Satu telur  diiris tipis. Sangat hati-hati agar bisa dibagi menjadi empat pasi. Aku dan ketiga saudaraku menanti cemas, khawatir irisan  tak sama. Tak heran saat kami menerima bagian, masih saja saling melirik curiga, menimbang ukuran besar kuning dan putih telur  yang sudah ibu letakkan di piring masing-masing. 
Sudahlah, kata ibu. Tak usah dipertengkarkan. Barangkali bagian itulah yang terbaik menurut Tuhan. Bukan besar atau kecil yang menjadi ukuran. Tetapi keberkahan untuk menerima apa adanya yang membuat makanan itu menjadi darah daging  bermanfaat di tubuh kita. Begitulah cara ibu menanamkan keadilan kepada kami.
Serakah hanya bikin rusuh, kata ibu. Egois, cikal bakal pertengkaran dan permusuhan. Mengapa harus cemburu dan iri hati pada orang lain. Rizki datang Tuhan yang mengatur. Ibu cuma bisa berusaha berbuat adil,  membagi sama setiap bagian masing-masing. Apa kalian sudah tak percaya lagi kepada ibu? Tanya ibu begitu menusuk.
Ah ... 
Kini kami telah menjadi. Kakak sulungku jenderal berbintang satu. Kedua kakakku yang lain pengusaha dan anggota dewan. Aku sendiri guru sekolah dasar di sebuah desa.
Kok bisa? Tanya teman-temanku yang tak percaya pada bagian masing-masing. Yang tak percaya pada hakikat guru berhati mulya.Yang menganggap guru lebih rendah dibanding jenderal pengusaha dan anggota dewan. Yang... ah...
Ukuran kalian hidup adalah perut dan kedudukan, jawabku menyinggung. Aku tersenyum, mengenang telur satu dibagi empat. Mengenang pahit zaman itu. Zaman rakyat mengantri minyak dan beras di kelurahan. Zaman coup d’etat, kata orang. Zaman bahan makanan dibuang ke laut agar rakyat terus merasa lapar dan berontak sebagai proletar, kata orang.

Sabtu, 04 Juni 2011

Cintai Wanita dari Hatinya : contoh Prosa Lirik dari Kahlil Gibran

Pada tulisan (masih) Pengertian Prosa Lirik, saya mengatakan, tidak semua karya Prosa Lirik harus ditulis dengan tipografi paragraf. Dalam karyanya yang berjudul Cintai Wanita dari Hatinya ...  Kahli Gibran pada bagian-bagian tertentu dia menulis sebagaimana dia menulis puisi modern dengan tipografi sentral. Dan dari hubungan antarkalimatnya berbentuk prosa, bukan sajak, sebagai contoh Bagian 5 : 

Lebih baik bagiku
untuk menjadi seorang pemimpi
yang menebar impian-impian yang harus diburunya
sekalipun berada di antara orang-orang terhina
daripada menjadi seorang pemimpin
di antara orang-orang yang tak lagi
memiliki
impian dan ambisi

Kebenaran dan keindahan adalah 
dua jenis tahta
bagi harta kehidupan.
Kutemukan tahta yang pertama di relung 
hati sang pencinta.
Sementara tahta kedua
berada di dalam genggaman tangan
sang pekerja.

(dikutip dari Cintai Wanita dari Hatinya ... karya Kahlil Gibran; penerbit Buku Biru Jogjakarta, 2010)

Selasa, 31 Mei 2011

(masih) Pengertian Prosa Lirik


Berhari-hari saya meluncur ke berbagai blog yang menulis tentang Prosa Lirik untuk menemukan pengertiannya.  Hasilnya tidak  ada yang memuaskan. Artinya pengertian-pengertian yang dijelaskan sama ketika saya pertama kali menerima pelajaran tentang Prosa Lirik di SMP, atau( kalau tidak salah) yang saya baca di buku Prosa Lama dan Prosa Baru yang ditulis Sutan Takdir Alisyahbana. Sayang kedua buku itu sudah dipinjam orang dan tidak kembali.  Bahkan sampai sekarang saya masih menduga bahwa yang pertama kali mengistilahkan Prosa Lirik di Indonesia untuk jenis prosa bergaya puisi itu (di Perancis disebut Poesie Lirique)  adalah Sutan Takdir Alisyahbana. 

Ada sebuah buku ‘Ikhtisar Seni dan Sastra’  untuk SMA yang ditulis Suroso dkk. Yang diterbitkan PT. Tiga Serangkai Th. 2000. Penjelasannya hampir sama dengan Pengertian Prosa Lirik yang sudah saya tulis sebelumnya. Prosa liris adalah karangan berbentuk prosa yang berisi curahan perasaan seperti puisi. Ciri-cirinya sebagai berikut :  

  1.  ikatan kalimatnya ikatan prosa;
  2. di dalamnya terdapat irama yang selaras dengan perasaan yang terkandung di dalamnya;
  3. bersifas liris; curahan perasaan;
  4.  tidak terdapat sajak di dalamnya, kalau ada sajak hanya secara kebetulan saja;
  5.  tidak untuk membawakan cerita, tetapi berisi lukisan perasaan tertentu yang dikandung pengarang; 
  6.   karangan disusun paragraf demi paragraf seperti prosa biasa;
  7. prosa lirik terdapat dalam kesusastraan baru
Sebagai buku ringkasan pada ciri-ciri butir 1 s.d. 4 mendekati kebenaran yang dijelaskan dalam poesie lirique, Kamus Besar bahasa Indonesia, atau contoh-contoh tentang prosa lirik karya Amir Hamzah yang diberi ulasan oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam kata pengantarnya. Tetapi untuk ciri-ciri butir 5 s.d. 7 rupanya perlu direvisi.(a) Kita harus membaca prosa lirik sebagai ragam prosa; Ciri prosa yang dominan adalah penokohan dan alur cerita, tidak hanya sekedar melukiskan perasaan yang dikandung oleh pengarangnya saja. (b) Bila kita membaca karya-karya Khalil Gibran,  Victor Hugo, atau Jalaludin Rummi dan Fariddudin Attar, meskipun saya belum membaca karya aslinya, tetapi jika dilihat dari karya-karya mereka yang telah diterjemahkan bentuknya adalah prosa lirik. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut tipografi prosa lirik tidak selalu disusun paragraf demi paragraf. Saya lebih banyak membaca karya prosa lirik ditulis dalam bentuk kumpulan larik-larik dalam sebuah bait yang tidak terikat oleh jumlah kata pada setiap lariknya, dan jumlah larik dalam sebuah baitnya. (c) Istilah prosa lirik baru muncul /disebut di Indonesia dalam  kesusastraan baru, bukan terdapat dalam kesusastraan baru. Padahal kalau kita mau meruntut ke belakang, karya-karya lama seperti Mahabarata dan Ramayana, atau datangnya pengaruh arab dengan syairnya, prosa lirik sebetulnya sudah ada sebelum prosa itu sendiri.

Barangkali ini dulu yang baru saya temukan tentang Pengertian Prosa Lirik, tentu masih belum memuaskan bagi teman-teman yang tertarik mengkaji karya-karya prosa lirik. Banyak orang menulis sebagai karya prosa lirik, sayang masih kurang pas di hati saya. Mungkin termasuk karya-karya saya juga.

Jumat, 20 Mei 2011

Pengertian Prosa Lirik


oleh Abdoel Azis

Prosa Lirik adalah salah satu bentuk  karya sastra dalam ragam prosa yang ditulis dan diungkapkan dengan menggunakan unsur-unsur puisi. Meskipun bahasanya berirama, dan pencitraannya seperti puisi, tetapi ikatan antarkata dalam sebuah kalimat, atau hubungan antarkalimat dalam sebuah paragraf (secara sintaksis) lebih  mendekati bentuk prosa.
Dalam kesusastraan barat  penulis belum menemukan istilah prosa lirik, yang ada adalah istilah puisi lirik (poesie lyrique). Tetapi gaya penulisan puisi lirik tersebut sama dengan yang kita sebut sebagai prosa lirik, sebagai mana pengertian di atas. Dikatakan liris, karena puisi tersebut merupakan gairah penyair yang meluap-luap, dan sangat emosial dalam mengekspresikan perasaan pribadinya, seperti pada Nyanyian Roland, Tristan dan Isue yang sering dinyanyikan para troubadur untuk menghibur raja-raja di dalam istana.
Dalam sebuah kata pengartar buku Esai dan Prosa karya Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisyahbana sangat tertarik dengan karya-karya  prosa lirik yang ditulis pengarangnya, di antaranya:
BERSELISIH
Karya Amir Hamzah

Berselisih kami, ia dua berjalan, aku  seperti selamanya seorang diri. Adiknya yang dipimpinnya itu menoleh-noleh ke belakang, matanya berkilat-kilat melihat segala berwarna warni, putar-rimutar, kelap-kumilap di  tepi jalan itu.
Ya, panjang-jinjing, lembut-lemah, kudungnya, tertudung-singkap, diusap-usap angin, ditolak-tolakkan anak rambutnya.
Berhenti ia, payung bertulis, dihujam agak tipis, dipanas agak kecil, dilihat, dipulung-pulungnya, ditawarnya, kemahalan ...
Terhenti aku, kakiku enggan terus, di hadapanku berdiri perempuan tua, sanggulnya merangkum kuntum, layu belum, kembang tak jadi.  Bertanya beliau. Menoleh ia ke belakang, kulihat matanya seketika, rasaku bercermin pada air yang jernih, dangkal entahkan dalam, kelopak matanya yang segan terbuka, enggan bertemu itu, melayap-hinggap semangatku serasa bermimpi, mendaduhkan hatiku yang rusuh-resah ini...
Di manakah aku telah melihatnya? Kutandai muka dan rupa, bangun dan anggunnya, kukenal seluk-bentuk tubir bibirnya ...
Aduh hatiku, terasa ada, terkatakan tidak.   

Sabtu, 30 April 2011

Kucing Kawin Supir Mati: sebuah Cerita Singkat

par Abdoel Azis

Kucing kawin di atas genteng bikin ganggu suami istri yang baru saja kawin tadi pagi. Keluar lelaki marah bawa gayung berisi air. Piyur! kucing disiram  tak kena keburu lari melintas jalan. Malang. Kucing jantan tergilas mobil melaju kencang. Mati

Supir mobil  gugup teringat bala cerita orang tua. Menggilas kucing pasti sial. Tak ayal supir hilang kendali menabrak pohon mahoni. Mati.

Penduduk sekitar  berhambur keluar rumah dengar suara bikin kaget. Langsung ngoling polisi yang segera datang ke tempat kejadian. Sibuk  mencari tahu awal-muasal tabrakan.

Lelaki tadi cuma diam berdiri tak berani bersaksi. Di seberang jalan kucing betina mengeong-ngeong meratapi kematian kekasihnya. Sedang di dalam kamar pengantin putri termangu-mangu tak percaya.  Sementara malaikat maut tersenyum menggoda sepasang pengantin baru yang jadi resah di malam pertama.

Aku menulis cerpen ini setelah selesai meyaksikan tayangan ulang  pernikahan Pangeran Wiliam dan Kate Middleton dengan perut lapar dan tak tahu esok yang  bisa dimakan.

Sabtu, 26 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 9 (ending)

Bangsa kita terbang tak tentu arah
Mencoba singgah di desa-desa
Namun orang-orang sudah tak ramah lagi
Anak-anak kecil membuat ketapel
Orang-orang tua membawa senapan
Sedang di gunung dipasang jaring-jaring penjerat burung

Bangsa sejati kita telah musnah

Ulat-ulat semakin berani menggasak dedaunan
Menjadi kepompong dan kupu-kupu
Lalu menetaskan berjuta-juta telor
Menjadi ulat, kepompong dan kupu-kupu

Pohon-pohon gundul
Rusa mati kelaparan
Harimau dan anjing hutan mati kelaparan
Matahari menembus tanah belah-belah
Mengeringkan humus terbakar
Membunuh bakteri pengurai
Air tak terbendung
Banjir!
Hutan longsor!

Hutan kebakaran!
Hutan longsor!
Hutan banjir!
Hutan rata dengan tanah!

Hutan kebakaran!
Hutan longsor!
Hutan banjir!
Hutan rata dengan tanah!

Hutan kebakaran!
Hutan longsor!
Hutan banjir!
Hutan rata dengan tanah!

Bangsa kita telah musnah
Ditangkap,  ditembak, dijual, dan dihinakan!

Bangsa kita telah musnah
Ditangkap,  ditembak, dijual, dan dihinakan!

Bangsa kita telah musnah
Ditangkap,  ditembak, dijual, dan dihinakan!

Jiancuuuuuuuuuuu!

Burung-burung berhenti bersuara
Teriris rasa pedih mendengar jerit tangisku

Sedang di bawah orang-orang bertepuk tangan
Menyambut lengkingan suara batinku

“Luar biasa!”
“Fantastis”
“Benar-benar burung dewa!”
“Berapa hendak kau jual?”
“Kalau ditukar mobil, bagaimana?”

Tuanku tertawa-tawa, bangga dan gila
“Tenang! Sabar! Kalau burungku sudah tua
Kalian akan mendapat spermanya,”

Luar biasa
Gila

Pantas para malaikat khawatir
Saat manusia hendak diciptakan
Dan iblis berani bertaruh dengan Tuhan
Karena di balik nurani yang mereka miliki
Tersimpan sisi-sisi kegelapan

Tuanku yang terhormat,
Bebaskan aku! Lepaskan aku!

Selesai

(Kembali di dokumentasi paa halama Prosa Lirik)

Minggu, 20 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 8

Tuanku yang terhormat,
Cuma satu hiburan yang membuatku gembira
Aku sangat senang ketika Tuan menendang anak bungsu Tuan
Yang melemparku dengan batu lantaran cemburu
Tuan telah menduakan kasih sayang Tuan
Bahkan Tuan tidak tahu, hatiku sangat bahagia
Ketika Tuan menamparistri Tuan
Yang lalai memberiku makan saat Tuan bepergian
Dan betapa bodohnya Tuan sebagai manusia
Semua kebencianku pada Tuan
Tuan selalu menganggapnya dengan rasa kagum
Ini betul-betul sebuah komedi manusia

Tuan tahu?
Piala penghargaan sebagai juara satu
Yang Tuan simpan di lemari kaca
Dipajang di ruang tamu
Dipamerkan kepada setiap orang yang datang
Piala itu Tuan, hasil jeritan tangisku
Benciku pada bangsa Tuan
Manusia

Terlalu banyak campur tangan manusia
Keserakahan dan kesombongan
Rekayasa yang berlebihan
Telah merusak tatanan kehidupan
Sehingga harmonisasi alam semesta menjadi timpang
Kehancuran dan penghancuran terjadi di mana-mana

Sabtu, 19 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 7


Tuanku yang terhormat,
Seandainya Tuan Nabi Sulaiman
Yang memahami bahasaku
Mungkin Tuan akan marah dan tersinggung
Mendengar ocehanku
Sungguh aku sering mengejek Tuan
Betapa bodohnya Tuan sebagai manusia

Hanya lantaran aku
Tuan rela bersusah payah
Mencari makananku setiap hari
Memandikan aku setiap pagi
Dan mengerekku ke atas untuk brjemur
Padahal sebagai binatang
Aku tidak pernah bertema kasih
Meskipun Tuan mmanjakan aku sedemikian rupa

Ho, aku tidk pernah suka jika Tuan bersiul
Suara Tuan sangat jelek
Jauh lebih jelek dari suara burung gagak
Kadang aku sangat ketakutan mendengar siulan Tuan
Sehingga aku harus meloncat-loncat dan berteriak-teriak
Karena siulan Tuan adalah kicau burung
Yang sedang skit dan sekarat

Aku juga sering memaki-maki Tuan
Saat aku dimandikan, karena itu bukan cara mandiku
Aku sering marah-marah
ketika Tuan mencekokku dengan telor dan madu
Karena bangsaku tida k pernah melakukan itu
Itu hanya membuat nafasku sesak saja

Jumat, 18 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 6


Oh, Tuanku yang terhormat
Lepaskan aku! Bebaskan aku!
Aku sangat  ingin terbang, Tuan
Melayang-layang di udara
Bersembunyi di balik gumpalan awan tipis
Melesat menuju langit
Cakrawala biru yang tak kenal batas

Aku sangat ingin terbang, Tuan
Terbang mengarungi alam raya
Yang menyimpan makna-makna keilahian
Aku ingin kembali mengepakkan sayapku
Yang sudah kaku
Bermain-main dengan angin
Hingga desirannya terasa nikmat
Menyisir setiap helai buluku

Aku sangat ingin bebas, Tuan
Bebas bernyanyi riang bersama kawan-kawan
Bernyanyi bersama terbitnya matahari
Bernyanyi bersama mekarnya bunga mawar
Bernyanyi bersama basah embun di pagi hari
Pada hijau dedaunan
Bernyanyi bersahut-sahutan
Dengan suara binatang lain
Di antara hutan belantara dan rawa-rawa

Aku juga sangat birahi, Tuan
Memiliki sahwat untuk bergumul
Berkasih-kasihan di atas dahan
Terbang berdua-duaan
Lalu beranak pinak
Demi kelangsungan dan keberadaan bangsaku

Tuanku yang terhormat,
Jangan lantaran aku bersuara merdu
Lantas Tuan seenaknya memperlakukan aku
Aku juga bisa marah, Tuan
Dan punya hati untuk menangis
Cuna Tuan tidak tahu
Apapun isi hati yang kuutarakan
Bagi Tuan hanyalah merdu belaka

Kamis, 17 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 5


Tuanku yang terhormat,
Sebagai burung aku tidak pernah membantah
Tuan telah ditunjuk Tuhan sebagai khalifah
Dan isi bumi sebagai bekalnya
Namun kalau boleh aku bertanya
Apakah karena aku bersuara merdu
Lalu Tuan menganggapku sebagai burung penghibur?

Lantas apalah artinya sayap bagiku
Jika aku harus terbang dalam ruang sempit
Yang berdiameter 60 sampai 80 sentimeter
Dan tinggi tidak lebih dri satu meter
Mungkinkah Tuhan menciptakan sayap bagiku
Sebagai satu penciptaan yang sia-sia?

Sungguh aku iri pada burung gereja
Yang sesekali mencuri makanan di luar sangkarku
Berkasih-kasihan di atas wuwungan rumah
Bercanda berkelompok di kawat-kawat listrik

Aku juga juga iri pada burung pipit
Terbang bebas bergerombol saat menjelang panen tiba
Aku iri pada kumbang dan kupu-kupu
Mereka bisa mengembangkan sayapnya di taman-taman bunga
Bahkan aku iri pada kecoa, lalat dan nyamuk
Sebagai musuh-musuh Tuan
Yang hidup bebas berterbangan di tempat-tempat kotor
Genangan-genangan air, got-got dan comberan

Tuanku yang terhormat,
Janganlah Tuan menyiksaku
Dengan segala kepalsuan yang Tuan ciptakan
Hanya karena untuk  kepuasan batin Tuan
Tuan telah mengurungku dengan mata bebas
Memandang alam lewat celah-celah jeruji besi
Bahkan Tuan telah tega mengenyampingkan
Birahiku terhadap lawan jenis
Yang menjadi hasrat semua mahluk hidup




Rabu, 16 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 4


Percayalah, Tuan!
Bangsaku amat keras dan tegas
Untuk mendapatkan seekor ulat
Aku harus bertarung dengan burung-burung yang lain
Dan berjaga-jaga dari binatang yang lebih besar
Seperti ular, musang dan elang

Tapi itu duniaku, Tuan
Tempat aku berkembang biak 
Untuk terus menjaga habitat dan kelangsungan hidupku
Dunia alam bebas dengan segala kesederhanaannya
Bagi mahluk yang tak beroleh pikiran dan perasaan
Tidak artifisial!
Murni siklus kehidupan sendiri mengerti
Sebagai proses keseimbangan alam

Selasa, 15 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 3


Tuanku yang terhormat,
Aku hanyalah seekor burung
Seekor binatang yang kedudukannya
Tidak lebih tinggi dari rerumputan dan pepohonan
Bergerak sesuai kodrat
Mengikuti hukum alam yang telah digariskan Tuhan
Punya sayap untuk terbang
Suara merdu untuk berkicau
Itu pun hanya takdir Tuhan semata

Sangat berbeda dengan bangsa Tuan
Yangdibekali pikiran dan perasaan
Untuk membangun nilai-nilai budi pekerti

Atas nama budi pekerti yang Tuan miliki
Tuan telah membuat sangkarku jauh lebih indah
Dari sarang yang kubuat
Bergelantungan di atas pohon
Dari jaman ke jaman tidak ada perubahan
Sedangkan sangkar yang  Tuan buat
Dicat warna warni
Ditata dan dihias tangan-tangan pengrajin cekatan
Dengan jeruji-jeruji bambu yang terawat dan rapi

Aku pun tak menyangkal
Makanan yang Tuan sajikan untukku
Sangat mewah dan luarbiasa
Semut merah kesukaanku
Telah Tuan sulap menjadi kroto yang empuk dan renyah
Ulat pohon pisang, belalang dan orong-orong
Menjadi sarapanku setiap hari
Serta Tuan sering mencekokku dengan telur dan madu
Agar aku tetap sehat, kuat dan bersuara merdu

Bahkan Tuan yang memiliki kecerdasan
Telah mampu mengembangbiakkan bangsaku
Tanpa melalui persetubuhan
Dengan merekombinasi DNA, susunan gengen
Yang terletak pada suatu rantai kromosom
Asam dioksiribonukleat yang mengatur aktivitas
Kehidupan segala mahluk di bumi
Tuan telah anggup menciptakan mahluk yang serupa
Baik bentuk, jenis, maupun sifatnya

Padalah bangsa Tuan sendiri tak berani mengembangkan
Bangsa Tuan dengan sistem kloning
Lantaran Tuan takut akan muncul Hitler-Hitler baru
Fir’aun-Firaun baru
Atau mungkin nabi dan rosul baru
Tanpa Tuan bertanya  apakah sistem itu
Ada gunanya buat bangsaku

Senin, 14 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 2

Tuanku yang terhormat,
Tidak pernahkah Tuan memperhatikan
Anak-anak kecil menggambar seeokor burung
Lalu mewarnainya dengan riang gembira
Kerna bentuk tubuhnya yang lucu dan sederhana
Bahkan mereka sangat imajinatif
nginterbang mengelilingi dunia

Pun mereka amat senang
Saat belajar origami
Membuat mainan burung dari kertas
Lalu mereka gantung di langit-langit kamar
Sambil menatap dan menghayal
Mereka terbang bersama mimpi-mimpinya
Begitu bebas alam pikiran mereka

Tuanku yang terhormat,
Tidak pernahkah Tuan memahami
Burung-burung yang dijadikan lambang-lambang negara
Sebagai satu cita-cita falsafah berkehidupan bebas merdeka
Tanpa tekanan, tindasan dan kekerasan

Dan masih banyak lagi cerita tentang burung
Yang dijadikan simbol
Simbol perdamaian, kebebasan dan keindahan
Kekuatan dan keberanian
Kesucian dan kesetiaan

Minggu, 13 Februari 2011

Monolog Kicau Burung 1

Tuanku yang terhormat,
Lepaskan aku! Bebaskan aku!

Tuanku yang terhormat,
Bukankah para pujangga telah menulis syair-syair
Tentang seekor burung yang dikurung
Dalam sangkar emas
sebagai perumpamaan
Bahwa kebebasan merupakan asasi kehidupan

Bukankah lenggak-lenggok burung 
Di pematang sawah
Atau burung-burung yang hinggap di atas dahan
Telah memberikan inspirasi artistik 
Bagi para penari, pelukis
Untuk mengungkapkan
Betapa indahnya 
Alam kebebasan

Bukankah para filsuf, ahli-ahli tata negara
Telah merumuskan perundang-undangan
Melalaui pasal-pasal dan ayat-ayatnya
Mereka ingin menyatakan
Bahwa setiap mahluk, setiap bentuk
Memiliki kebebasannya sendiri-sendiri
Yang harus dihargai dn dihormati

Minggu, 06 Februari 2011

Ayah Pulang


AYAH PULANG

Ayah pulang ...!
Sapaku disambut sepi anak-anak yang matanya tak mau lepas menatap layar kaca monitor komputer asyik bermain game on line. “Ya”, jawab mereka singkat tak tanya ayah bawa apa, esok libur mau kemana, atau ... ?

Ayah pulang ...!
Sapaku disambut sepi istriku yang sedang  menonton sinetron tak begitu serius lantaran matanya asyik menatap lekat screen handphone komat-kamit membaca deretan komentar teman-teman sementara kedua jari jempol tangannya terus menari-nari di atas keypad menulis update status. “Ya”, jawabnya singkat tak tanya kok pulang terlambat, mandi dulu, makan dulu, atau ... ?

Ayah pulang ...!
Sapaku disambut sepi meja makan sepi tak ada canda tawa, diam  terbawa otak kepala yang masih tersimpan dalam layar monitor dan screen handphone ingin meneruskan rasa penasaran, terganggu keharusan rutin makan malam bersama di ruang makan

Ayah pulang ...!
Sapaku disambut sepi kamar sepi sendiri depan layar monitor komputer aku menulis update status , “Ayah pulang ...! sapaku disambut sepi sendiri sepi.” Dan kuharap esok pagi ada keceriaan di rumah ini, meski lewat dinding facebook.

Rabu, 08 Desember 2010

Negeri Mahluk Jejadian; sebuah cerpen singkat

par Abdoel Azis

Lutung Kasarung termenung bingung. Si Tumang cuma bisa tercengang-cengang. Aneh, Pasti ada yang salah dengan mahluk jejadian. Ah, legenda dan cerita lama tak laku untuk dibaca. Tak perlu ada fabel, para binatang sudah pandai bermain peran
Aku ksatria, putra Raja Guruminda. Ditenung menjadi lutung sebagai bakti keikhlasan guna menyunting putri cantik Purbasari.Yang dianiaya saudara kandung sendiri, Purbalarang.
Aku, kata Si Tumang. Bapak asli Sangkuriang. Berkorban mengubah wujud menjadi anjing. Agar Putri Dayang Sumbi tak ingkar dari janji. Atas sumpahnya yang suci

Aih... Aih ... Sekarang jaman sudah klewat edan. Para binatang menjelma jadi manusia
Tikus dan kucing duduk dikantor jadi pegawai negeri. Lalat-lalat hijau berkerumun menempati gedung dewan.
Para babi membuat komunitas  gentong babi bikin buncit perut sendiri. Kutu loncat berpindah-pindah partai cari selamat. Dan generasi bebek terus mengekor dari belakang. Sementara kambing congek, bodoh, papa dan nista. Sesekali dituduh sebagai teroris kambing hitam.
Aih... Aih...Jaman benar-benar klewat edan. Lebih edan dari yang dilukiskan Ronggowarsito. Harimau, helder, srigala, dan beruang. Berjaga-jaga di pekarangan. Aih... Aih...Pasti ada yang aneh dengan mahluk jejadian.

Aku pun muak meneruskan cerpen ini. Meskipun anjing, babi, srigala, dan raja singa membaca cerpen ini ,tak pungkin mereka mau mengubah diri jadi manusia. 


Carilah Yang Kau Butuhkan