Kamis, 14 Maret 2013

Pengertian Komedi


oleh Abdoel Azis

Apa itu komedi?

Belajar Teater
Ciri-ciri sebuah komedi adalah lucu.  Tetapi lucu yang dimaksud dalam komedi bukanlah sekedar melucu seperti lawakan-lawakan kosong yang hanya ingin ditertawakan penonton.   Lucu di sini  adalah sebagai  cara untuk menyindir  atau  mengkritisi  kelemahan/cacat sifat-sifat manusia dalam  masyarakat. Cacat dan kelemahan sifat-sifat manusia, seperti kebodohan, kesombombongan, dan kenaifan atau penyimpangan-penyimpangan perilaku manusia di dalam masyarakat menjadi suatu peritiwa-peristiwa yang menggelikan dalam kaca mata komedi..
Sasaran yang ingin dicapai oleh komedi adalah  pencerahan. Manusia harus mampu memperbaiki diri dari kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Nilai-nilai moral dan rasa sosial untuk memperbaiki keadaan selalu  menjadi tema penting dalam sebuah komedi. Jadi komedi bukan sekedar melucu. 
Berbeda dengan  tragedi yang tujuannya untuk mencapai katarsis;  semacam penyucian jiwa. Penyadaran akan adanya kekuasaan yang lebih besar daripada kekuasaan manusia. Betapa kecil dan rapuhnya manusia di hadapan suratan takdir.
Rendra mengatakan bahwa komedi adalah sebuah  upacara utnuk menertawakan cacat dan kelemahan masyarakatnya sendiri. Dan seorang bijak menjelaskan bahwa komedi sebuah pertunjukan yang enak ditonton tapi teramat pahit untuk kita renungkan.
Tokoh-tokoh dalam komedi adalah antipati. Tidak ada satu pun tokoh yang harus ditiru. Sebagai contoh; ada seseorang terpeleset karena menginjak kulit pisang dan jatuh kesakita. Orang-orang yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Lucunya orang yang jatuh bukan merasakan sakitnya, tetapi lebih mendahulukan rasa malunya. Maka jika dipikir; betapa tidak berperikemanusiaannya orang-orang yang menertawan orang jatuh, atau anggap  orang yang kena musibah. Yang semestinya, malah menrtawakannya. Begitu juga dengan yang jatuh. Yang mestinya minta bantuan, bahkan seringkali menolak tawaran pertolongan orang lain karena malunya.
Saya sering menyaksikan   peristiwa komedi di sekolah, seperti anak-anak yang mendapat nilai di bawah 5, seringkali tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya karena mendapat nilai sama. Guru-guru mencari dan membeli, bahkan memalsu piagam-piagam untuk mengusulkan kenaikan pangkat dan sertifikasi profesi.  Begitu pula di gedung DPR, di instansi-instansi, atau di tempat-tempat lain. banyak para pejabat dan anggota dewan yang menjadi tokoh-tokoh komedian. Lucu dan menggelikan.
Ketika Nias dihantam Tsunami, para pejabatnya ngelencer ke luar negeri. Ada juga usulan dewan untuk studi banding kepramukaan  di Afrika. Untung mereka segera sadar dan segera mengubah haluan belajar etika di Yunani. Eman-eman anggaran ngelencer dihanguskan. Sementara di kiri-kanan gedung DPR ada sebuah perkampungan kumuh, mencari makan harus berlari terlebih dahulu, mengejar truk untuk menjadi buruh lepas, sehari itu bekerja besok belum tentu. Ironis! Komedi memang ironis.

1 komentar:

Den Bandung mengatakan...

Komedi enak ditonton tapi sakit jika kita renungkan.

Carilah Yang Kau Butuhkan